Kamis, 09 Juli 2009

Menunggu janji Presiden untuk petani


Meskipun hasil penghitungan resmi oleh KPU belum keluar. setidaknya melihat hasil hitungan cepat lembaga survey dengan metode masing-masing, seluruh lembaga survey menempatkan pasangan SBY-Boediono sebagai pemenang dengan perolehan suara yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan Pemilu Presiden 2009 ini hanya dalam satu putaran. Karena rata-rata margin error hitung cepat lembaga survey yang tidak lebih dari 2 %, maka hampir dapat dipastikan pasangan SBY-Boedionolah yang akan memimpin negeri ini untuk 5 tahun kedepan.

Di negeri ini, masyarakat petani menempati rangking teratas dalam hal jumlah bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya, karena itu wajar jika pada masa kampanye para kandidat capres-cawapres menempatkan pertanian sebagai issue strategis untuk dijadikan komoditas kampanye dalam rangka mendongkrak perolehan suara. Hal ini juga dilakukan oleh pasangan SBY-Boediono, setidaknya janji SBY-Boediono terkait pertanian yang dirangkum dalam www.indonesiamemilih.kompas.com adalah sebagai berikut;

1. Menaikkan anggaran pertanian
2. Subsidi benih padi dan pupuk
3. Swasembada untuk kecukupan pangan
4. Pangan menjadi prioritas utama untuk meningkatkan kesejahteraan
5. Menaikkan harga hasil panen petani
6. Meningkatkan produktifitas pertanian
7. Mempertahankan dan meningkatkan swasembada pertanian

Janji-janji SBY-Boediono tersebut diatas, setidaknya memberi harapan baru untuk perbaikan nasib para petani, meskipun sebenarnya banyak diantara petani yang -bisa jadi- kurang yakin SBY-Boediono akan benar-benar mampu mewujudkan janji tersebut.

Selama ini sudah terlalu sering kita jumpai, jika ada orang yang punya karep maka dengan mudahnya mengobral janji tetapi pada saat karepnya sudah teraih, dengan begitu mudahnya pula janji itu ter/dilupakan begitu saja.

Selanjutnya, para petani hanya mampu berharap dan menunggu sembari berdo'a semoga SBY-Boediono tidak lupa akan janji-janjinya untuk pertanian dan bisa mewujudkan janji-janji tersebut.

Minggu, 14 Juni 2009

musim yang semakin tak menentu


skarang sudah bulan juni, berdasarkan pengalaman smua petani memperkirakan bahwa bulan juni mestinya sudah memasuki musim kemarau.
banyak tanaman yang sudah ditanam untuk menyambut musim kemarau tahun ini, tetapi alam berkata lain..
sampai sekarang hampir tiap hari hujan masih mengguyur dan mematikan tanaman tembakau yang telah ditanam oleh pateni tembakau di bojonegoro, bahkan di banyak tempat lain sampai sekarang masih sering terjadi banjir karena hujan yang tak kunjung berhenti..
apa ini semua karna pemanasan global yang -katanya- telah merusak siklus iklim di planet biru ini...???
wallahu a'lamu

Selasa, 03 Februari 2009

udang vaname, asa baru petani tambak di Lamongan

Sebagai seorang petani kecil, saya tidak tahu pasti kapan udang vaname mulai dibudidayakan di indonesia, yang saya tahu udang vaname bukanlah udang varietas asli negeri ini, bagi saya dari mana asalnya udang vaname juga tidak terlalu penting karena yang terpenting saat ini udang vaname telah memberikan asa baru bagi petani tambak di Lamongan, tempat saya juga menjadi petani.

Setelah pada tahun - tahun sebelumnya petani tambak sering mengalami kerugian saat menanam udang windu, tepatnya pada pertengahan tahun 2007, salah satu lahan tambak milik orang tua saya mencoba diisi bibit udang vaname, karena baru mencoba saya hanya berani menebar benih sejumlah 20 rean (1 rean = 5.000 ekor bibit udang), tidak banyak memang. Mencoba sesuatu yang baru tentu saja memaksa saya untuk lebih rajin bertanya, menimba ilmu dari petambak lain yang lebih berpengalaman, bahkan tidak jarang sampai ke luar kota. Meski begitu perasaan khawatir tetap saja menghantui saya, karena sama - sama udang masih sering terbayang kegagalan saat menanam udang windu.

========
10 hari setelah penebaran benih belum juga terlihat udang yang telah disebar, saya datangi kembali "guru" di luar kota, setelah saya ceritakan apa yang terjadi sang guru hanya tersenyum, senyum yang menurut saya justru mengikis perasaan khawatir, karena senyum itu berarti bahwa tidak ada masalah dengan udang vaname yang kutebar, dan benar saja saya diminta untuk tidak perlu khawatir dan kalau perlu jangan tiap hari mengecek udang tersebut, "tunggu sampai 25 hari" katanya.

tepat pada hari ke 25 setelah saya menebar benih, saya mengecek lagi udang yang vaname dan apa yang saya lihat telah mampu mengikis kekhawatiranku, udang vaname terlihat begitu cepat berkembang (besar). Kali ini saya rasa tidak perlu datang untuk "melapor" pada guru di luar kota, cukup saya telpon saja. Dengan semangat & senyum mengembang saya ceritakan gimana perkembangan udang yang saya tebar.

setelah hampir tiga bulan menunggu sejak saya menebar bibit udang, saya kembali mengecek udang tersebut saya merasa bahwa sudah saatnya masa panen karena udang yang saya tebar sudah besar selain itu juga karena air di petak tambak saya kian menyusut seiring datangnya musim kemarau sedangkan sungai terdekat yang ada juga sudah mengering sehingga tidak ada lagi pasokan air untuk menambah debit air yang ada di dalam tambak.

hasilnya..?
cukup membuat saya bahagia, rasa khawatir akan kegagalan yang dulu sempat menghantui musnah sudah masa - masa menunggu yang sempat membuat saya panik terbyarkan oleh hasil panen udang vaname tersebut. ya, udang vaname telah memberikan asa baru buatku dan juga buat para petani tambak lainnya di Lamongan, dan seperti yang saya duga ketika datang masa tanam ikan/udang pada tahun berikutnya para petani lain pun ikut menanam udang vaname, heroisme petani untuk menanam udang vaname seakan telah mampu menghapus kenangan kelam kegagalan menanam udang windu.

saat pupuk pabrik kian langka

Setiap hari akhir - akhir ini kita selalu disuguhi berita tentang kegelisahan petani karena kelangkaan pupuk. Seluruh masyarakat petani di indonesia merasakan kegelisahan yang sama yakni pupuk pabrik yang seakan - akan menghilang dari pasaran, kalaupun ada harganya naik menjadi tiga kali lipat bahkan di Lamongan harga pupuk urea produksi petro di toko pengecer dijual dengan harga Rp. 135.000 s/d 150.000 per sak (50 Kg). Tentu saja ini merupakan kejahatan serius karena sebelumnya pemerintah melalui Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, Ir Soetarto Alimoeso menegaskan, pemerintah tetap mepertahankan Harga Eceran Tertingi (HET) pupuk meskipun akan ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Meskipun harga BBM naik, Dia mengatakan, HET pupuk urea harus tetap Rp1.200/kilogram atau Rp60 ribu/zak kemasan 50 kilogram. NPK Rp1.750/kilogram (kg) atau Rp35 ribu/zak kemasan 20 kg, ZA Rp1.050/kg (Rp52.500/zak kemasan 50 kg) dan SP-36 Rp1.550/kg atau Rp77.500/zak kemasan 50 kg. Harga ini berlaku sejak awal 2007.

Apa yang sedang terjadi di negeri agraris ini...?
kemana hilangnya pupuk produksi pabrik...?

faktanya pabrik pupuk juga masih tetap berproduksi, asap dari cerobong pabrik - pabrik itu juga tidak pernah berhenti mengepul, distributor resmi juga sudah disiapkan sampai tingkat paling bawah, lalu kenapa pemerintah seakan sudah tidak lagi mampu mencarikan solusi, padahal pemerintah selalu mentargetkan untuk semakin meningkatkan hasil produksi pertanian, mungkinkah..?

di tengah kemelut persoalan pupuk pabrik yang tak kunjung selesai, saya kemudian berkhayal jika saja sejak awal petani kita dibiasakan untuk memanfaatkan cara - cara bertani organik mungkin persoalan seperti saat ini tidak akan terjadi, hanya saja sudah terlalu lama petani kita "dipaksa" untuk bertani dengan selalu bertumpu pada produk - produk pabrik yang tidak ramah lingkungan. Pemerintah, melalui "topeng" meningkatkan produktifitas hasil pertanian telah berhasil memaksa petani untuk memakai produk yang tidak ramah lingkungan tersebut, dengan luas lahan yang semakin menyempit tanah dipaksa untuk memberi hasil lebih banyak tanpa melihat efek negatif jangka panjang pemakaian produk - produk tersebut. Unsur hara yang terkandung dalam tanah semakin berkurang, banyak sisa - sisa pupuk dan obat - obatan pabrik yang tidak terurai, bahkan membunuh jutaan bakteri pengurai, maka otomatis tingkat kesuburan tanah juga semakin menurun.

petani sudah sangat bergantung pada pupuk dan obat - obatan berbahan kimia, dalam benak petani yang namanya pupuk sudah pasti produksi pabrik, selain itu berarti bukan pupuk. Akan sangat susah untuk mengajak petani kembali bertani secara organik, meskipun dalam keadaan terpaksa seperti saat ini.

Selasa, 23 Desember 2008

Srangga, Sumber pangan masa depan

Kompas,
Senin, 22 Desember 2008 | 02:27 WIB

Di Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, masyarakat memakan belalang goreng sebagai lauk. Masyarakat Papua mengonsumsi ulat sagu. Di Samosir, Sumatera Utara, capung pernah dikenal sebagai makanan yang lezat. Orang Jawa mengenal laron yang gurih. Masihkah kita berpikir pangan itu tergolong pangan ekstrem, aneh, dan menjijikkan? Sebuah festival makanan di Richmond, Virginia, Amerika Serikat, mungkin bisa menjadi inspirasi untuk memanfaatkan serangga.

Di tengah ancaman krisis pangan, semua pihak harus mencari pangan alternatif. Selain sumber karbohidrat, sumber protein juga harus dicari. Serangga adalah salah satu sumber protein yang kaya. Sangat mungkin pula serangga menjadi pangan fungsional yang bisa berfungsi sebagai obat.

”Sayangnya, setiap kali membicarakan serangga selalu terbayang hal yang menjijikkan. Pandangan ini harus diubah karena serangga juga sumber protein,” kata Kepala Lembaga Penelitian Pengabdian pada Masyarakat Unika Santo Thomas Posman Sibuea di Medan beberapa waktu yang lalu.

Posman menceritakan, di beberapa daerah di Sumatera Utara sejumlah warga pada masa lalu mengonsumsi serangga, seperti belalang, capung, dan sejenis jangkrik. Pangan jenis ini tersingkir karena mendapat label makanan primitif dan diberi simbol dekat dengan kemiskinan.

Tak paham

Generasi berikutnya sudah tak paham lagi dengan pangan ini karena orangtua mereka telah menyingkirkan pangan ini diganti dengan pangan yang diberi label modern dan disebut lebih beradab.

”Kita harus mempromosikan sumber pangan lokal kalau kita ingin tidak terpengaruh oleh krisis pangan. Kesan menjijikkan dan simbol kemiskinan harus diubah. Serangga kaya protein, hampir 60 persen dari berat serangga adalah protein,” kata Posman. Ia menyebutkan, di beberapa daerah jenis serangga lazim dikonsumsi masyarakat, seperti ulat sagu, belalang, tawon, dan berbagai serangga lainnya.

Adalah David George Gordon (58), penulis buku The Eat A Bug Cookbook dari Seattle yang memperkenalkan jangkrik dalam pameran makanan di Richmond, Virginia, beberapa bulan yang lalu seperti dikutip majalah Time. Kontan saja menu yang disajikan Gordon dikerubuti orang-orang yang penasaran karena selama ini warga Amerika Serikat tak mengenal serangga dalam menu konsumsi mereka.

Gordon beralasan, menu serangga relatif lebih ramah lingkungan dibandingkan daging ayam ataupun daging sapi. Sektor peternakan, yang di dalamnya termasuk produksi daging itu, menyumbang emisi gas rumah kaca sekitar 18 persen, sedangkan serangga sangat kecil memberi dampak produksi gas rumah kaca. Ia sendiri menyatakan, serangga adalah pangan masa depan ketika harga-harga pangan yang ada menjulang tinggi.

”Alam telah sangat bagus menghasilkan serangga,” kata David Gracer, salah satu juru masak di festival makanan itu. Ia beralasan, serangga tidak membutuhkan tempat yang besar dan membutuhkan sedikit pasokan pakan. Ia mencontohkan, hanya dibutuhkan sedikit air untuk menghasilkan 150 gram belalang, sebaliknya untuk memproduksi daging sapi dalam jumlah yang sama dibutuhkan 3.290 liter air.

Alasan lainnya, serangga yang berdarah dingin mengonsumsi makanan untuk pembentukan tubuh mereka, sedangkan hewan mamalia membutuhkan makanan, selain untuk membentuk tubuh mereka, juga untuk mempertahankan stabilitas temperatur tubuh. Dalam hal ini dikenal koefisien konversi makanan yang masuk ke tubuh dengan bobot tubuh (ECI). ECI untuk sapi hanya 10. ECI untuk ulat sutra antara 19 hingga 31, sedangkan ECI kecoa Jerman 44. Artinya, makanan yang dikonsumsi serangga lebih banyak menjadi substansi tubuh.

Gordon mengakui tidak mudah untuk mengenalkan menu serangga ini kepada masyarakat Amerika Serikat. Banyak pandangan yang menyebutkan bahwa serangga merupakan binatang yang kotor, sumber penyakit, dan berbahaya bila dimakan. Akan tetapi, ia mengatakan, dengan penanganan yang baik, serangga merupakan makanan yang enak. Setidaknya, dengan pemasakan yang benar, kemungkinan alergi bisa dihindarkan.

Ia yakin serangga akan menjadi masakan masa depan. Ketika dunia mengalami ledakan penduduk dan dampak perubahan iklim mulai terjadi yang berakibat pada kerusakan pasokan pangan, serangga akan menjadi pilihan. Ia mengingatkan, 50 tahun yang lalu makanan sejenis sushi merupakan hal yang tabu, tetapi sekarang sudah ada 9.000 restoran sushi di Amerika Serikat.

”Selama ini serangga dihindari karena dikhawatirkan beracun. Saya berpendapat semua zat bisa saja beracun, yang membedakannya adalah dosisnya. Oleh karena itu, sangat mungkin serangga mempunyai senyawa aktif tertentu yang kalau dosisnya terlalu tinggi bisa menjadi racun, tetapi kalau rendah malah bisa menguntungkan tubuh,” kata Prof Budi Widianarko dari Jurusan Teknologi Pangan, Unika Soegijapranata, Semarang, mengomentari kemunculan serangga sebagai sumber pangan itu.

Untuk itu, ia mengusulkan sumber pangan ini harus dilihat bukan hanya sebagai sumber protein saja, tetapi juga sebagai pangan fungsional. Dalam kategori ini konsumsi serangga bisa berfungsi medis ataupun aprodisiak alias pembangkit gairah seks. Kemungkinan fungsi- fungsi itu harus diteliti lebih lanjut.

Budi Widianarko mengatakan, persepsi baru tentang serangga muncul sebagai bagian dari siklus persepsi yang diikuti dengan perubahan peradaban. Perubahan-perubahan persepsi selalu terjadi di dalam setiap masa. Dalam konteks sekarang, perubahan itu terjadi karena krisis pangan dan perubahan iklim.

”Kita kembali ke makanan seperti itu sebagai usaha besar untuk mencari makanan yang mempunyai gizi dan bermanfaat bagi kesehatan. Pencarian sumber pangan dari binatang memang lebih lambat dibandingkan pangan yang berasal dari tumbuhan,” katanya.

Ia mencontohkan, kemunculan kembali buah pace yang dulu diemohi masyarakat tiba-tiba digandrungi setelah ada riset yang menunjukkan khasiat pace. Padahal, dulu masyarakat telah mengenal rujak pace.

Widianarko menyarankan, lembaga penelitian dan pemerintah harus secepatnya menginventarisasi bahan makanan menjadi kekayaan hayati dan juga menjadi keunggulan Indonesia. Selama ini dokumentasi mengenai makanan eksotik ini sangat minim. Riset-riset pangan ini juga tergolong diabaikan. Perguruan tinggi lebih tenggelam dengan penelitian-penelitian klasik.

Potensi

Ia yakin serangga atau pangan eksotik lainnya memiliki potensi yang besar sebagai sumber protein maupun pangan berfungsi medis. Pengalaman masyarakat mengonsumsi bahan-bahan tersebut bisa dijadikan pintu masuk untuk menggali potensi pangan-pangan eksotik hingga menjadi menu sehari-hari.

”Pangan seperti itu memiliki akar tradisi yang umurnya ribuan tahun, masak ada yang salah dengan makanan itu?” katanya. Pembuktian secara ilmiah memang diperlukan, tetapi bila bahan pangan itu telah digunakan oleh komunitas tertentu dan berlangsung lama, maka bisa menjadi petunjuk fungsi makanan tersebut.

Meski demikian Widianarko mengkritik, kebangkitan makanan eksotik di Indonesia muncul karena adanya kebangkitan makanan sejenis di negara lain. Bila ini yang terjadi, Indonesia hanya terjebak menjadi pengikut semata. Ke mana dunia bergerak, Indonesia hanya menuruti perubahan di negara lain.

Indonesia harus mampu menunjukkan keunggulan di bidang ini karena memiliki sumber yang kaya. Indonesia juga memiliki tradisi yang kuat dalam mengonsumsi pangan-pangan yang disebut dengan pangan ekstrem itu.

”Kalau melihat polanya, kita hanya kembali menjadi pengikut,” katanya. Ia mencontohkan, tempe bisa kembali menjadi hadir di meja makan dan digandrungi masyarakat setelah kalangan internasional melontarkan khasiat tempe. Pada saat kita kembali menggandrungi tempe, paten riset tempe telah dikuasai negara lain. Kita hanya menjadi penonton di negeri asal tempe. (ANDREAS MARYOTO)

Minggu, 30 November 2008

Jagung Transgenik Menembus Filipina

Jagung Transgenik Menembus Filipina

Kompas. Jumat, 29 Agustus 2008 | 13:42 WIB

Pemandangan menarik terbentang di sebuah desa di Cagayan, wilayah utara Filipina, sekitar satu setengah jam perjalanan udara dari Manila. Puluhan hektar tanaman jagung berbagai varietas terhampar dan siap dipanen.

Masing-masing tampak saling ”beradu” keunggulan teknologi untuk meraih produktivitas tinggi demi meningkatkan pendapatan petani jagung di sana. Bentangan tanaman jagung di blok yang satu merupakan varietas jagung hibrida konvensional. Di Filipina, istilah konvensional melekat pada varietas jagung hibrida yang belum menjalani modifikasi teknologi atau rekayasa genetika.

Teknik budidaya jagung hibrida konvensional juga masih menggunakan pendekatan ”lama”. Misalnya saja petani harus terus memantau pertumbuhan tanaman jagung hampir setiap saat kalau tidak ingin produktivitasnya berkurang. Apabila tanaman jagung terserang hama-penyakit, para petani memberantasnya dengan menyemprotkan insektisida. Waktu penyemprotan yang tepat adalah 24 jam sebelum hujan tiba.

Di sisi yang lain terbentang tanaman jagung varietas hibrida-transgenik atau hasil rekayasa genetika (genetic modified organism/GMO. Benih jagung transgenik (Bacillus thuringiensis/Bt Corn) yang ditanam itu sudah dimasukkan gen yang tahan terhadap serangan serangga penggerek batang dan tongkol, juga tahan terhadap insektisida pembasmi rumput.

Meski usia tanam di antara keduanya sama, tanaman jagung transgenik daunnya tampak lebih hijau dan segar meskipun bulir jagung mulai berisi penuh dan tinggal satu-dua minggu menunggu jagung kering panen. Di antara tanaman jagung hibrida transgenik juga tidak banyak ditumbuhi gulma alias rumput liar. Lahan jagung terlihat bersih sehingga pertumbuhan tanaman jagung lebih optimal karena tidak harus berebut nutrisi dengan rumput liar.

Kondisi sebaliknya terdapat pada tanaman jagung hibrida konvensional. Selain banyak rumput, warna daun lebih kuning, batang dan tongkol jagung juga banyak diserang ulat penggerak batang dan tongkol. Berat jenis bulir jagung berkurang dan akibatnya produktivitas turun. ”Tampaknya kami akan panen lebih bagus kali ini,” kata Montiago (45), petani di Cagayan yang menanam jagung transgenik.

Lebih berani

Para petani di Filipina mulai tertarik menanam jagung transgenik. Alasannya karena produktivitas per hektar tanaman jagung transgenik lebih tinggi 10-20 persen dibandingkan hibrida nontransgenik. Peningkatan produktivitas 10-20 persen bisa di dapat oleh tanaman jagung transgenik seperti jenis Bt corn karena tanaman tersebut lebih tahan terhadap serangan serangga penggerek batang dan tongkol yang dapat menurunkan produktivitas.

Sudah lama dikeluhkan oleh para petani di Filipina ganasnya ulat penggerek batang dan tongkol. Tanaman jagung yang baru keluar serbuk sarinya langsung diserang ulat-ulat itu. Seiring pertumbuhan tongkol jagung, ulat-ulat itu tumbuh dengan suburnya. Bahkan, pertumbuhannya bisa lebih besar daripada lidi. Selama berada dalam tongkol jagung, ulat itu terus mengebor ke dalam tongkol.

Jumlahnya tidak cuma satu. Dalam satu tongkol kerap terdapat banyak ulat. Tongkol- tongkol jagung yang terserang ulat penggerek kadang sampai bengkok. Ganasnya ulat penggerek tongkol tak jarang mengakibatkan bulir jagung tidak terisi penuh sehingga kualitas jagung menjadi buruk dan berat jagung panen berkurang tajam.

Hilangnya sebagian berat jenis jagung akibat bulir tidak penuh terisi berarti kerugian bagi petani. Belum lagi gangguan gulma, seperti rumput yang juga dapat menghambat pertumbuhan jagung, juga dapat menekan produktivitas. Karena itu, petani di Filipina begitu antusias untuk menanam jagung transgenik, melihat berbagai kemudahan dan keuntungan finansial yang didapat. Apalagi keinginan mereka sejak 2003 juga mendapat dukungan dari pemerintah setempat.

Profesor peneliti pada Institut of Plant Breeding Universitas Filipina, Evelyn Mae Tecson- Mendoza mengungkapkan, yang diinginkan petani dari ladang pertanaman mereka adalah produktivitas yang tinggi, tanaman tahan terhadap serangan hama penyakit, dan kualitas produk pertanian lebih bagus.

Keinginan petani di Filipina itu terjawab dengan hadirnya jagung transgenik. Benih jagung transgenik memungkinkan menghasilkan produktivitas tinggi, kualitas lebih bagus, dan tahan serangan hama penyakit karena didesain spesifik untuk tujuan tersebut. Benih jagung hibrida yang ingin menghasilkan produk sesuai yang diharapkan bisa dihasilkan dengan rekayasa genetika. Pada pembenihan jagung konvensional, hal itu sulit dilakukan karena gen tetua bisa tercampur dengan gen lain.

Dengan rekayasa genetika, memungkinkan teknologi pertanian modern mentransfer gen yang diinginkan dari makhluk hidup lain untuk dimasukkan pada benih jagung. Gen yang ditransfer bisa berasal dari gen tanaman sejenis atau dari gen hewan. Misalnya saja, seseorang menginginkan bisa mengonsumsi jagung yang rendah kandungan karbohidrat. Atau bisa saja menghasilkan produk jagung yang mendorong peningkatan produksi insulin, mencegah kanker, serta hepatitis. Dengan bioteknologi modern, mutasi gen bisa dilakukan.

Sampai saat ini nilai perdagangan produk bioteknologi modern di pasar global mencapai 44,3 miliar dollar AS. Pasar terbesar atau 60 persen di Amerika Serikat, disusul Jepang 6,9 persen, Jerman 6,4 persen, Prancis 5,4 persen, dan Italia, Spanyol, serta Inggris yang masing-masing di bawah 4 persen. Saat ini tanaman transgenik sudah diadopsi di 12 negara berkembang dan 11 negara industri maju.

Filipina merupakan negara berkembang yang ”lebih berani” dalam mengambil sikap soal tanaman transgenik. Setidaknya sejak diperkenalkan di Filipina tahun 2003, tanaman jagung hibrida transgenik di Filipina sudah mencapai luasan 200.000 hektar.

"Kami tidak memberikan dukungan apa pun, kami memberikan keleluasaan bagi petani yang mau menanam jagung. Subsidi jagung untuk peningkatan produksi jagung nasional hanya diberikan pada pembukaan lahan baru," kata Kepala Program Sekretariat GMA Corn Departemen Pertanian Filipina Milo Delos Reyes, pekan lalu.

Tidak mau terus impor

Filipina sejak setahun lalu memang giat menanam jagung. Mereka sudah terlalu lelah terus bergantung pada pasokan jagung impor untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak dan pangan warganya. Rata-rata impor jagung Filipina 1 juta per tahun.

Bahkan, pada tahun 2006 impor jagung Filipina mencapai 1,3 juta ton. Kejenuhan karena terlalu bergantung pada jagung impor yang menguras devisa, apalagi saat sekarang ketika harga jagung dunia di atas 400 dollar AS per ton, mendorong Filipina membuat terobosan dalam budidaya tanaman jagung.

Pilihannya dengan menanam jagung transgenik atau Bt Corn di ladang-ladang pertanian mereka. Semangatnya hanya satu, bagaimana produksi bisa digenjot setinggi-tingginya agar surplus. Sikap ”berani” Pemerintah Filipina ini membuahkan hasil. Produksi jagung Filipina terus melonjak dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 produksi jagung nasional Filipina hanya mampu memenuhi 80 dari kebutuhan, tetapi 2008 diperkirakan mencapai 90 persen atau sebesar 9,83 juta ton.

Terlepas dari persoalan pro-kontra penggunaan benih jagung hibrida transgenik terhadap kesehatan, bagi petani jagung, menanam jagung transgenik lebih menyejahterakan. (Hermas E Prabowo dari Cagayan, Filipina)

Jagung Transgenik Tingkatkan Pendapatan Petani

Jagung Transgenik Tingkatkan Pendapatan Petani

Kamis, 23 Oktober 2008 | 14:14 WIB

Kompas. JAKARTA, KAMIS — Potensi jagung transgenik tidak saja meningkatkan pendapatan para petani, tetapi juga dapat mengurangi beban impor jagung nasional karena hasil produksi yang meningkat setiap kali panen. "Sistem transgenik telah membuat pohon jagung lebih tahan terhadap hama dan herbisida," kata Sekretaris Eksekutif Center for Alternative Dispute Resolution Policy and Environment (CARE) Institut Pertanian Bogor (IPB) Dahri Tanjung saat konferensi pers di Gedung Departemen Pertanian, Jakarta, Kamis (23/10).

Dahri menjelaskan, jagung transgenik merupakan jagung biasa atau jagung hibrida yang telah diseleksi untuk mendapatkan contoh yang paling stabil. Sampel tersebut akan dimasuki sifat atau gen bakteri dari serangga yang menyerang tanaman jagung. Ketika ditanam, pohon jagung sudah memiliki semacam antibodi terhadap serangga hingga masa panen tiba.

Saat ini jagung transgenik telah ditanam di kawasan Jawa Timur dan Lampung seluas 1,36 hektar dari 3,4 juta hektar lahan yang ada. Sebanyak 90 persen dari total produksi dipasok ke industri pengolahan jagung dan sisanya dikonsumsi langsung.

Sementara itu, salah satu peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB, Uut Widyastuti, mengatakan, jagung tersebut telah diujicobakan dalam laboratorium dan layak dikonsumsi oleh masyarakat. Namun, saat ini jagung tersebut masih menunggu izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan tentang keamanan pangan. Hal ini disebabkan regulasi mengenai pengaturan makanan layak konsumsi berbeda di setiap negara.

Uut melanjutkan, metode penelitian hingga menjadi produk dan sosial budaya masyarakat menjadi pertimbangan terpenting. "Kami yakin tahun 2009, izin tersebut akan dikeluarkan, mengingat para petani sangat menyambut positif dan kios-kios benih sudah siap menjadi penyalur," tutur Uut. (C12-08)